BELIEF IN GOD BY INTUITIVE KNOWLEDGE IN MULLĀ ṢADRĀ’S PHILOSOPHY (A CRITIQUE TO ATHEISTIC EVIDENTIALISM)

Abdolmajid Hakimelahi, Basrir Hamdani

Abstract

Abstract : The epistemological approach of evidentialism maintains that a belief must have sufficient evidence in order to be rationally justified. The belief in God is no exception, it must pass as well the litmus test of evidence as a measure of its rational justification. But what counts as evidence? Responding to this question and identifying the nature of the evidence that can be used to justify belief has become a point of contention among philosophers. While some evidentialists have denied the possibility of evidence for the belief in God, others have attacked the very basis of the evidentialist claim by promoting belief in God without evidence. The following paper aims at proposing an alternative way or approach to argue and to justify belief in God, that is, intuitive knowledge. To excute this aim, this paper tries at first to describe briefly those two currents of thought and, further, examines and criticizes them by discussing and analyzing the notion of innate concepts and presentational knowledge as known by an intuitive knowledge based on Mullā Ṣadrā’s view. According to some philosophers, this type of knowledge, presentational knowledge, can be included as “evidence” even from the evidentialist point of view which does not limit evidence to conceptual knowledge. By this, critical analysis will be applied here as a method to conduct the research. 

Key words : Belief in God, sufficient knowledge, justification, evidentialism, al-ʿilm al-”huḍūrī (presentational knowledge), innate concepts, Mullā Ṣadrā.  

 

Abstrak : Pendekatan epistemologis paham evidensialisme meyakini bahwa sebuah keyakinan sepatutnya memiliki bukti atau berpijak pada fakta untuk dapat diterima (dibenarkan) secara rasional. Tidak terkecuali keyakinan atau iman kepada Tuhan, harus pula berpijak pada bukti sebagai tolak ukur  justifikasi rasionalnya. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan bukti/fakta? Menanggapi pertanyaan ini dan menjelaskan hakikat ‘bukti’ yang dapat digunakan untuk membenarkan keyakinan telah menjadi hal yang diperdebatkan di kalangan para filsuf. Sementara sebagian (filsuf) penganut paham evidensialisme telah menolak kemungkinan adanya fakta untuk membuktikan iman kepada Tuhan, sebagian lainnya telah mengkritik basis (landasan argumentasi) klaim penganut paham evidensialisme dengan mengajukan (argumen) iman kepada Tuhan tanpa [harus berlandaskan pada] ‘bukti’. Makalah ini bertujuan untuk mengajukan suatu jalan atau pendekatan alternatif untuk menjelaskan dan memberi argumen terhadap iman kepada Tuhan, yaitu pengetahuan intuitif. Untuk mewujudkan tujuan ini, tulisan ini berupaya, pertama-tama, mendeskripsikan secara ringkas kedua arus pemikiran di atas dan, selanjutnya, menelaah dan mengkritik kedua arus pemikiran tersebut dengan mendiskusikan serta menganalisis gagasan konsep-konsep bawaan dan pengetahuan presentasional yang dikenal sebagai pengetahuan intuitif berdasarkan pandangan Mullā Shadrā. Menurut sebagian filsuf, pengetahuan jenis ini, pengetahuan presentasional, dapat dimasukkan sebagai « fakta », bahkan dari sudut pandang paham evidensialisme sekalipun, karena paham ini tidak membatasi fakta hanya pada pengetahuan konseptual. Berdasarkan hal ini, analisis kritis akan digunakan sebagai metode untuk melakukan penelitian dalam tulisan ini. 

Kata kunci : Iman kepada Tuhan, pengetahuan yang memadai, justifikasi, evidensialisme, pengetahuan presentasional, konsep-konsep bawaan, Mullā Shadrā.




Keywords


Belief in God; sufficient knowledge; justification; evidentialism; al-ʿilm al-”huḍūrī (presentational knowledge); innate concepts; Mullā Ṣadrā.

Full Text:

PDF


Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Powered by OJS | Azwar Muin