Filsafat sebagai Intellectual Exercise

Banyak kalangan yang menuding filsafat hanya sebagai intellectual exercise (latihan berpikir) dan karenanya dipersepsi sebagai hal yang tidak berfaedah banyak untuk kehidupan manusia. Benarkah demikian? Apa yang dimaksud dengan intellectual exercise (IE)?  Lalu, apakah pendidikan filsafat baik melalui program studi yang terstruktur maupun kursus-kursus informal termasuk pengelolaan jurnal-jurnal filsafat merupakan IE belaka?

IE esensinya merupakan pendidikan dan pelatihan bagaimana menggunakan akal budi kita dengan benar, logis, dan koheren seraya menajamkan kemampuan dan kecakapan kritis dan analisis dalam memahami sesuatu. Logika, sebagai cabang sekaligus alat pokok filsafat, melatih penalaran untuk tepat dalam menata konsep-konsep dan putusan-putusan berupa penarikan kesimpulan yang didasarkan pada kaidah-kaidah asasi berpikir. Tapi filsafat, tentu saja, melampaui logika. Ia juga mendidik akal budi untuk memahami realitas secara radikal (radix, mengakar) dan menyeluruh sebagaimana adanya (maujūd mā huwa maujūd); inilah fungsi korespondensi filsafat, yakni menghubungkan dunia mental dengan dunia obyektif. Dalam konteks inilah, Ibn Sina menyebutkan bahwa salah satu manfaat utama filsafat adalah menyempurnakan jiwa (al-takāmul al-nafs) karena ia mengintegrasikan kapasitas jiwa rasional dengan realitas yang dikenal.

Jika demikian halnya, maka tentu tidaklah tepat menyatakan bahwa filsafat tidak berguna untuk kehidupan karena tidak ada yang menolak pentingnya berpikir lurus dan tepat mengambil kesimpulan apalagi di tengah membanjirnya gagasan dan informasi yang kerap saling bertentangan di pelbagai media dan buku; juga sulit mengelak bahwa kemampuan akal budi memahami realitas sebagaimana adanya secara mendasar sangat berguna dan makin dianggap urgen sekarang ini di tengah gegap gempitanya banalitas dan kedangkalan pemahaman. Terinspirasi oleh doa Nabi Muhammad yang memohon agar Tuhan menampakkan padanya “segala sesuatu sebagaimana adanya” (haqā’iq al-umūr), Jāmi menulis doa, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah kami dari keterikatan pada keindahan dunia, dan tampakkanlah pada kami watak segala sesuatu sebagaimana adanya. Jangan tampakkan pada kami yang tiada seperti ada, dan jangan pula jatuhkan tirai ketiadaan pada indahnya keberadaan”.

Sekalipun filsafat direduksi menjadi IE, ia tetap bermanfaat. Persis seperti body exercise (latihan badan; olahraga) agar tubuh sehat dan bugar dengan kaidah-kaidah fisiologis dan medis, IE (latihan berpikir; olah-nalar) merawat kesehatan dan kewarasan nalar kita dengan kaidah-kaidah koherensi dan korespondensi.

Lalu, mengapa pernyataan “filsafat hanya semata IE” mengalami distorsi atau pejoratif makna? Banyak faktor yang melambarinya. Salah satu diantaranya adalah kelembaman filsafat untuk berperan sebagai kata sifat atau kata kerja. Kelembaman (inersia) adalah karakteristik benda untuk mempertahankan keadaannya dan cenderung resisten terhadap perubahan statusnya; dalam fisika, tingkat kelembaman sebuah benda diwakili oleh massa benda tersebut. Semakin besar massa benda, semakin sulit untuk bergerak dan karenanya memerlukan gaya yang makin besar untuk menggerakkannya. Nah, karena sebagian sarjana mengamati bahwa filsafat – terutama studi filsafat di dunia Islam- telah diperlakukan sebagai kata benda, alih-alih kata kerja, maka terjadilah kelembaman studi filsafat yang cenderung defensif terhadap status-quo dan sebaliknya resisten terhadap tuntutan dinamika realitas. Kemudian muncullah frase pejoratif di muka “filsafat hanya sebagai IE”, yang ternyata IE pun kita cermati juga sangat berguna. Namun, pesan pokok frase pejoratif itu adalah bahwa filsafat berkutat pada masa lalu dan terpaku pada produk pemikiran alih-alih proses kreatif pemikiran.

Sejumlah sarjana sudah merespons anggapan reduksionis tersebut. Dalam sambutannya pada Konperensi “Islamic Philosophy and the Challenges of the Present-Day World” tahun 2009 di Teheran dan Hamadan, Prof. Reza Davari Ardakani, seorang filsuf-budayawan senior Iran, menyebutkan bahwa filsafat yang terkait dengan aktivitas berpikir membantu kita untuk: (1) membuka sebuah horizon baru; (2) menciptakan sebuah horizon baru; (3) berpikir ke depan (thinking ahead); dan (4) mengingatkan kita akan batasan-batasan dan sekaligus kapasitas mengatasi batasan-batasan itu (beyond limit). Filsafat, menurut Ardakani, juga harus selalu berinteraksi dengan dunia kontemporer; jika ia hanya berurusan dengan sejarah, ia mati (if it deals with only the past, it dies).

Pada acara yang sama, khususnya pembukaan konferensi tersebut, Ayatollah Muhammad Khamenei direktur SIPRIn (Sadra Islamic Philosophy for Research Institute), mengingatkan bahwa filsafat selalu muncul dari tantangan-tantangan. Filsafat harus bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di dunia.  Beliau memberi sejumlah contoh tantangan filsafat Barat terhadap filsafat Islam seperti sekularisme dan ateisme. Namun, pada saat yang sama, kakak Pemimpin Spiritual Iran ini (Ayatollah Ali Khamenei) ini juga menyuarakan dialog antara filsafat Islam dan filsafat Barat.  Sementara itu, Prof. Akiro Matsumoto, peneliti filsafat asal Jepang dalam konferensi itu mempresentasikan bagaimana filsafat Islam dewasa ini mempengaruhi dunia filsafat di Jepang melalui karya-karya Toshihiko Izutsu yang banyak menulis tentang filsafat Mullā Shadrā dan Suhrawardī dalam persepktif perbandingan dengan filsafat kontemporer.

Walhasil, pembaca budiman, merujuk pada ulasan di muka, enam artikel jurnal edisi kali ini bisa dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Artikel berjudul “Klasifikasi Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Jābir bin Ḥayyān” dan “Definisi dan Konsepsi Falsafah Islam” merupakan dua karya tulis yang mencoba memetakan gagasan dan tipologi pemikiran secara logis, runtut, dan koheren. Sementara artikel “Manusia dan Kesempurnaannya: Telaah Psikologi Transendental Mullā Shadrā” dan “Teori Gradasi: Komparasi antara Ibn Sīnā, Suhrawardī dan Mullā Shadrā” bisa dikategorikan sebagai dua karya tulis yang menunjukkan fungsi korespondensi filsafat, yakni, mengaitkan alam mental dan realitas luar. Sedangkan artikel “Epistemology and the Problem of Cultural Hybridity in Muhammad Iqbal’s Thought” dan “Reduksionisme Eksplanatif dan Antropologi Transendental Jawādī Āmulī” masing-masing  secara samar boleh digolongkan sebagai karya tulis yang hendak menyapa persoalan kontemporer dalam perspektif tradisi filsafat Islam.

Husain Heriyanto

Powered by OJS | Azwar Muin